Minggu, 12 Agustus 2018

CALEG MUDA BUKAN BONEKA



Oleh : Destano Anugrahnu
           

Suhu perpolitikan menjelang tahun 2019 semakin panas saja, hal itu ditambah pasca diumumkannya pasangan bakal calon Presiden & wakil presiden dari masing-masing partai politik, yang sejauh ini kita amatai mengikuti pemberitaan media cetak, televise, maupun online merupakan sebuah pertandingan ulang Pilpres 2014 hanya saja dengan wajah baru untuk posisi wakilnya meskipun untuk skala nasional mereka adalah pemain lama yang bisa kita cek sumbangsih kerjanya selama ini melewati jejak media.
Namun bangsa Indonesia tidak boleh terbawa dalam manisnya media dalam membingkai peristiwa pendaftaran bakal calon presiden ini sehingga melupakan dalam waktu dekat pula sebelum menentukan pemimpin negeri ini kita akan terlebih dahulu memilih beberapa refresentatif kita di Parlemen, baik tingkat Kabupaten/kota, Provinsi, bahkan nasional untuk DPR RI. Karena merekalah bagian penting lain yang tidak bisa dilepaskan dalam proses pesta demokrasi untuk masa ini, karena kita harus bisa menentukan kepada siapa amanah kita kedepan akan di titipkan, idealnya hanya mereka yang bersuara lantang & mengerti apa yang menjadi kerinduan masyarakat ini, mereka yang berani bersuara kencang saat jajaran eksekutif mulai keluar rel sebagaimana aturan mengaturnya, yang memiliki integritas tinggi dalam konsistensinya melaksanakan proses ceck & balance bersama eksekutif, mereka yang meramu anggaran tepat sasaran bukan pesanan kaum pemodal, mereka yang menempa aturan guna kemaslahatan rakyat, dan yang bermata elang mengawas setiap perencanaan tersebut jika sudah mulai di biaskan.
Tahun ini para calon penghuni parlemen tersebut sudah mulai ramah, senyum-senyum manis, ada kegiatan keagamaan hadir jarang alfa, ringan tangan membantu baik materill maupun moril, lagu-lagu lama mulai mereka dendangkan guna menina bobokan rakyat, saat kita tidur mereka pun beramai-ramai menjarah segala peluang yang bisa di uangkan guna memperkaya diri sendiri dan kolega.
Namun di tahun ini pula ada yang membuat kita berselera ibarat makan ada menu baru yang ditawarkan pilar-pilar demokrasi kita yakni menjamurnya para caleg (calon legislatif) yang secara usia dan pengalaman sangatlah ranum, namun kaum aktivis kampus pernah bahkan terkesan sering mengatakan bahwa pemuda adalah generasi perubahan, dasar pemikiran itu menggunakan landasan sebuah penggalan jargon yang pernah di kumandangkan Presiden pertama Indonesia Bung Karno “berikan aku 10 pemuda maka akan ku goncangkan dunia” yang tentu menggetarkan bulu kuduk kita, jika demikian kebenaran yang terjadi maka pengharapan baru  di pundak mereka & tentunya rakyat memiliki alternatif baru dan menjanjikan kesejahteraan.
Namun jika ternyata kehadiran & partisipasi kaum muda dalam pesta demokrasi ini hanya sebagai wadah mencari panggung untuk mempromosikan diri serta menjadi alat partai maka sangat memilukan, dan yang lebih parah lagi jika ikutsertanya kaum muda ini dalam pemilihan legislatif tahun 2019 nanti ternyata sebatas pelengkap agar qorumnya intruksi pengurus partai di pusat serta harus adanya 30% keterwakilan perempuan, sungguh menyedihkan artinya kaum generasi perubahan republik yang diberi kesempatan tidaklah lebih dari BONEKA PARTAI & SINGA ELIT YANG DISIAPKAN UNTUK MENGGARONG UANG RAKYAT, dan yang bersangkutan tak lagi menjadi bagian orang muda yang memiliki idealisme terakhir yang konon hanya dimiliki kaum muda di NKRI tercinta ini.     

*Penulis adalah Ketua Himpunan Pemuda & Mahasiswa Barito Timur Kalimantan Tengah     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar