OLeh : Destano Anugrahnu, S.H
Pemimpin, memimpin dan
menjadi pimpinan adalah satu kata yang hari ini begitu banyak dikejar oleh
semua orang, karena tentunya banyaknya hak dan kewenangan yang dapat seseorang
lakukan dan gunakan jika sudah menjadi pemimpin. Bisa menitipkan sanak keluarga
ditempat yang diingikan, bisa dijadikan ladang basah bisnis, bisa
mengintervensi banyak hal, dihormati, dan yang paling didamba tentunya adalah
bermuara pada mengalirnya rupiah pada rekening-rekening pribadi. Banyak lembaga
yang diperkenankan di Republik Indonesia pun tak lepas menjadi perebutan banyak
kalangan untuk menjadi pemimpinnya, salah satu lembaga atau wadah yang banyak
diperebutkan selain lembaga-lembaga Negara yang di amanat konstitusi, adalah
partai politik. Kenapa partai politik begitu menarik, karena banyak keputusan,
kebijakan dan aturan yang dibuat melibatkan atau refresetatif dari lembaga ini
dan banyak pihak pun berminat untuk terlibat dan bergabung disana, aktivis
kampus, anggota LSM, purnawirawan Militer atau Polri, artis, musisi dan kaum
pengusaha, juga banyak yang merapat ke dalam partai politik bahkan tak sedikit
pula yang justru mendirikan partai baru sebagai wadah berjuang baru katanya.
Dipersilahkannya setiap individu
untuk berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat dalam Konstitusi telah
membuat kalangan muda dan tua pun kini saling adu argumen untuk merebut simpati
rakyat, kaum muda dengan semangat baru menawarkan pembaharuan dan militansi
untuk memperjuangkan semua kepentingan rakyat, dan disisi yang lain kaum tua
juga menyampaikan guna mempertahakan tahta berkuasanya dengan tetap kekeh
mengatakan untuk menjadi seorang pemimpin dan memimpin itu lebih baik orang
yang sudah berpengalaman karena memperjuangkan hak masyarakat tidak mungkin
dilakukan dengan belajar dan minim pengalaman, namun disayangkan penulis, seringkali
motivasi utama dari dua semangat kaum ini adalah tidak lebih dari hanya ingin memperebutkan
kekuasaan dan tampuk kepemimpinan, hanya segelintir yang tulus memperjuangkan
kepentingan rakyat yang mana akhirnya membuat rakyat dibuat kebingungan atas
hal-hal semacam ini hingga bermuara pada rendahnya kepercayaan masyarakat pada
politik dan partai politik.
Edukasi politik yang minim, kaderisasi
yang memprioritaskan keluarga, tidak sehat penuh dengan transaksional dan
matrealistis tentu akan melahirkan pemimpin dan penguasa yang rakus, otoriter
dan tidak bermental melayani, jika hal ini terjadi dan terus berlangsung maka
politisi yang dilahirkan tak lebih dari drakula-drakula penghisap uang Negara
dan hak rakyat. Sehingga akhirnya politik pun di definisi tak lebih dari
sebagai suatu cara merebut kekuasaan untuk berkuasa.
Besarnya anggaran yang dialokasi
bagi operasional partai politik diharapkan dapat menjawab kerinduan rakyat hari ini yakni, kemampuan
partai politik sebagai pilar demokrasi melahirkan politisi yang memimpin dan
menjadi pemimpin yang bermental melayani dan berjiwa Negarawan yang mau dan
mampu mengorbankan kepentingan pribadi dan golongan untu kesejahteraan dan
perbaikan taraf kehidupan rakyat disemua kalangan, karena secara teori idealnya
politik adalah jalan memperjuangkan kepentingan dan kebutuhan rakyat melewati keputusan,
kebijakan dan peraturan yang tidak hanya populer namun membawa kemaslahatan
berkelanjutan bagi masyarakat semua kalangan, dan sampai hari ini kita semua
hanya mampu mengatakan semoga. Sekian dan Terimakasih
*Pemuda
asal Barito Timur, Kalimantan Tengah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar