Selasa, 07 November 2017

MENANTI POLITISI BERJIWA PELAYAN



OLeh : Destano Anugrahnu, S.H


Pemimpin, memimpin dan menjadi pimpinan adalah satu kata yang hari ini begitu banyak dikejar oleh semua orang, karena tentunya banyaknya hak dan kewenangan yang dapat seseorang lakukan dan gunakan jika sudah menjadi pemimpin. Bisa menitipkan sanak keluarga ditempat yang diingikan, bisa dijadikan ladang basah bisnis, bisa mengintervensi banyak hal, dihormati, dan yang paling didamba tentunya adalah bermuara pada mengalirnya rupiah pada rekening-rekening pribadi. Banyak lembaga yang diperkenankan di Republik Indonesia pun tak lepas menjadi perebutan banyak kalangan untuk menjadi pemimpinnya, salah satu lembaga atau wadah yang banyak diperebutkan selain lembaga-lembaga Negara yang di amanat konstitusi, adalah partai politik. Kenapa partai politik begitu menarik, karena banyak keputusan, kebijakan dan aturan yang dibuat melibatkan atau refresetatif dari lembaga ini dan banyak pihak pun berminat untuk terlibat dan bergabung disana, aktivis kampus, anggota LSM, purnawirawan Militer atau Polri, artis, musisi dan kaum pengusaha, juga banyak yang merapat ke dalam partai politik bahkan tak sedikit pula yang justru mendirikan partai baru sebagai wadah berjuang baru katanya.
            Dipersilahkannya setiap individu untuk berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat dalam Konstitusi telah membuat kalangan muda dan tua pun kini saling adu argumen untuk merebut simpati rakyat, kaum muda dengan semangat baru menawarkan pembaharuan dan militansi untuk memperjuangkan semua kepentingan rakyat, dan disisi yang lain kaum tua juga menyampaikan guna mempertahakan tahta berkuasanya dengan tetap kekeh mengatakan untuk menjadi seorang pemimpin dan memimpin itu lebih baik orang yang sudah berpengalaman karena memperjuangkan hak masyarakat tidak mungkin dilakukan dengan belajar dan minim pengalaman, namun disayangkan penulis, seringkali motivasi utama dari dua semangat kaum ini adalah  tidak lebih dari hanya ingin memperebutkan kekuasaan dan tampuk kepemimpinan, hanya segelintir yang tulus memperjuangkan kepentingan rakyat yang mana akhirnya membuat rakyat dibuat kebingungan atas hal-hal semacam ini hingga bermuara pada rendahnya kepercayaan masyarakat pada politik dan partai politik.
            Edukasi politik yang minim, kaderisasi yang memprioritaskan keluarga, tidak sehat penuh dengan transaksional dan matrealistis tentu akan melahirkan pemimpin dan penguasa yang rakus, otoriter dan tidak bermental melayani, jika hal ini terjadi dan terus berlangsung maka politisi yang dilahirkan tak lebih dari drakula-drakula penghisap uang Negara dan hak rakyat. Sehingga akhirnya politik pun di definisi tak lebih dari sebagai suatu cara merebut kekuasaan untuk berkuasa.
            Besarnya anggaran yang dialokasi bagi operasional partai politik diharapkan dapat menjawab  kerinduan rakyat hari ini yakni, kemampuan partai politik sebagai pilar demokrasi melahirkan politisi yang memimpin dan menjadi pemimpin yang bermental melayani dan berjiwa Negarawan yang mau dan mampu mengorbankan kepentingan pribadi dan golongan untu kesejahteraan dan perbaikan taraf kehidupan rakyat disemua kalangan, karena secara teori idealnya politik adalah jalan memperjuangkan kepentingan dan kebutuhan rakyat melewati keputusan, kebijakan dan peraturan yang tidak hanya populer namun membawa kemaslahatan berkelanjutan bagi masyarakat semua kalangan, dan sampai hari ini kita semua hanya mampu mengatakan semoga. Sekian dan Terimakasih
*Pemuda asal Barito Timur, Kalimantan Tengah         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar