Oleh : Destano
Anugrahnu, SH
Jika bicara perihal demokrasi tentu tak akan cukup secangkir
kopi untuk menemukan kesamaan definisi dari kata Sembilan huruf ini, dari
politisi jalanan sampai politisi senayan
pun tentu punya persepsi yang berbeda-beda akan kata ini. Sebenarnya kata
demokrasi semakin kita kenal dan sering kita pergunjingkan sejak jatuhnya orde
baru dan masuknya kita dalam masa reformasi,
karena di masa sebelumnya demokrasi hanya formalitas belaka, artinya
demokrasi dikebiri.
Masa
reformasi selalu dikaitkan dengan kebangkitan demokrasi, hal ini dikarenakan
Pertama kali Pemilu dilaksanakan sebenarnya, ditandai lahirnya multi partai
politik, pers mulai berani objektif mengabarkan dan menuliskan suatu kejadian
peristiwa. Secara umum demokrasi sering di artikan suatu kebebasan bersikap,
mengekspresikan sesuatu yang tentunya dengan batasan-batasan norma di
masyarakat dan norma hukum.
Sejak
demokrasi semakin dipahami di Indonesia siapa saja bisa menjadi apa saja, meski
tetap harus diakui demokrasi Indonesia masih perlu banyak penyempurnaan guna
peningkatan kualitas demokrasi itu sendiri.
Karena
hari ini salah satu sikap bangsa kita yang masih keliru yakni kita selalu
merindukan demokrasi yang berkualitas tapi kita belum mempersiapkan diri yang
dewasa dalam berdemokrasi itu sendiri, sebagai
contoh setiap Pemilihan Umum (PEMILU) entah untuk Presiden, Gubernur, Bupati
bahkan Kepala Desa bangsa kita pasti akan terjadi kegaduhan, di tingkat
masyarakat akan terbelah menjadi kubu-kubu yang saling serang, jika perang kubu
tersebut masih untuk ide, gagasan, visi & misi tentu tidak ada yang salah
karena itu hakikat demokrasi itu sendiri, tapi jika perang itu sudah mengacu
pada sikap menebar kebencian, menguliti masalah Suku, agama, dan ras tentu
hal-hal yang semacam ini memicu perpecahan.
Jika
demikian, apa arti demokrasi kita pertahankan di Indonesia jika di demokrasi
itu sendiri membuka kran perpecahan anak bangsa, apakah tidak sebaliknya kita
kembali di pimpin generasi otoriter agar semua anak bangsa bersatu padu
melawannya, karena justru dengan demikian persatuan nampaknya lebih elok. Pada
2018 pemilihan serentak akan dilaksanakan ini kembali akan menguji sejauh mana
kedewasaan bangsa ini, jika tetap tidak ada beda perlu dipikirkan apakah tidak
kembali ke masa orde baru saja. Sekian dan Terimakasih
*Ketua Himpunan Pemuda & Mahasiswa Barito
Timur di Palangka Raya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar