Oleh :
Destano Anugrahnu
Kurang lebih sepekan yang lalu ada pemberitaan
yang cukup mengejutkan diberbagai
media bagi masyarakat umum dan para pemerhati lingkungan, tepatnya pada
sabtu 17 november 2018 enam orang aktivis dari lembaga Greenpeace melakukan
aksi protesnya di atas kapal pengangkut minyak sawit atau yang lebih dikenal
CPO milik sebuah raksasa perkebunan kelapa sawit asal Indonesia yakni Wilmar
Group. Sontak kegiatan ini menuai berbagai reaksi dari berbagai pihak, Protes keras pertama dilayangkan GAPKI
(Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), melewati Direktur Eksekutifnya
Mukti Sardjono bahkan mengatakan Greenpeace telah mengusik kedaulatan kita
sebagai bangsa, kritik senada juga disampaikan Menko Kemaritiman Luhut B.
Panjaitan yang meminta greenpeace bisa
menyampaikan aksi dan kritikan kepada industri sawit Indonesia dengan lebih
beradab.
Sebenarnya jika kita menarik benang
merah dari aksi ini merupakan buntut atau klimax dari mulai fustasinya
perjuangan kaum pemerhati lingkungan guna tetap menjaga keseimbangan daya
dukung dan daya tampung lingkungan di republik kita tercinta kita ini, ada
banyak retorika yang seakan tak ada yang keliru baik dari yang pro maupun
kontra dengan keberadaan aktivitas perkebunan minyak sawit ini. Bagi yang pro
dan kepentingannya bergantung di ladang-ladang perkebunan tersebut seperti
salah satunya GAPKI menyatakan ada nasib 17 juta orang (pekerja & petani) yang hari ini
bergantung di perkebunan sawit, dan ditambah lagi konon minyak sawit merupakan
tulang punggung dari pendapatan Negara ini, sungguh potret bagaimana sawit
telah menggurita di bumi pertiwi.
Dibalik begitu tergantungnya republik
ini dengan minyak sawit entah diakui dan disadari atau tidak perkebunan kelapa
sawit adalah penyedia berbagai sumber konflik yang besar hari ini, mulai dari
kerusakan lingkungan yang mengabaikan prinsip berkelanjutan, konflik perampasan
hak-hak tanah masyarakat sekitar ekspansi perkebunan, deforestasi gila-gilaan
yang lebih buruk dari zaman HPH/HTI, dan
perselingkuhan pejabat Negara dengan kaum investor perkebunan ini, meski secara
regulasi telah banyak pengaturan agar adanya perhatian serius pihak investor
perkebunan dan pengawasan serius dari pemangku kebijakan namun kedikdayaan kaum
pemodal ladang minyak sawit tak mampu membuat para pemangku kebijakan berani
menyampaikan setiap pelanggaran dan kesalahan kebun minyak ini secara objektif,
dan bahkan membuat regulasi tersebut tidaklah
lebih dari macan kertas republik ini.
Lagi untuk kesekian kalinya
penulis melihat ada potensi tersandranya Negara oleh pemodal perkebunan sawit
ini kedepan jika hari ini ada 17 juta orang besok atau lusa bisa milyaran orang
anak bangsa yang menjadi tameng para kaum elit & kapitalis ini untuk mengintervensi
kebijakan Negara yang hendak menertibkan kegiatan usaha mereka, penulis tidak
pula ingin berkesimpulan apakah ketersedian lapangan kerja dan pemasukan dari
aktivitas perkebunan tersebut bisa dikatakan prestasi yang berhasil di suguhkan
Negara atau melihat banyaknya masalah yang juga diproduksi dari perkebunan ini
justru merupakan sebuah tragedi memilukan disepanjang sejarah kehidupan umat
manusia yang hanya bisa disaksikan bersama-sama, dan melihat dari sisi lain
penulis mengamati hanya segelintir orang yang mendapat perlakuan manusiawi
sebagai pekerja perkebunan kelapa sawit ini justru mayoritas yang terpampang
adalah semacam kolonialisme baru tenaga kerja oleh sesama anak bangsa, sungguh
amat memilukan jika fakta ini serupa sebuah adagium Homo Homonis Lupus : Manusia
Adalah serigala bagi sesama kaumnya. Sekian & Terimakasih.
*Penulis
adalah Pemuda Dayak Maanyan Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar