Kamis, 19 Januari 2017

PNS MENYANDERA PEMUDA KARENA KEBIASAAN

                           

Oleh : Destano Anugrahnu, SH

Jika kita  bicara tentang orang muda tentu kita akan terpikir sekumpulan manusia yang sedang dalam keadaan labil, alay, berpenampilan narsis untuk  memperoleh pujian dari sesama bahkan lawan jenis, itu mungkin tidaklah mutlak keliru karena banyak orang muda memang tidak kita pungkiri demikian adanya, tapi jika kita sedikit melebarkan pandangan kita, banyak orang muda di dunia ini yang peranannya cukup dperhitungkan keberadaanya, sebut saja salah satunya pendiri dari salah satu media sosial yakni "facebook" beliau adalah salah satu orang muda, jadi dari hal ini kita dapat menyimpulkan jika orang muda mampu menjadi salah sattu pihak yang diperhitungkan, hanya saja mungkin banyak diantara orang  muda yang potensial tersebut tidak memiliki  kesempatan, dan berada pada keadaan yang tidak seberuntung lainnya yang berkesempatan mengembangkan bakat dan kemampuannya.
Di daerah saya Barito Timur seorang anak muda baru dikatakan berhasil atau sukses saat dia bisa menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), lantas bagi kami atau mereka yang belum menjadi PNS bagaimana nasibnya?yah seperti ini lah paradima yang masih menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kami disana, kami bukannya tidak pernah mencoba menyadarkan masyarakat bahwa pemahaman ini adalah keliru, sampai hari ini kami terus mendorong agar seorang pemuda seharusnya didorong berwiraswasta bukan PNS saudaraku, karena salah satu penyumbang besarnya pengeluaran daerah dan Negara ini adalah penggajihan atas PNS, kami sadar  meski secara history garis keturunan moyang aau suku orang dayak maanyan bukan seorang pedagang atau wiraswasta yang ulung, namun kami sebagai orang muda yang sadar bahwa kami tidak boleh menyerahkan atau memasung masa depan generasi muda suku kami dengan kebiasaan dan paradigma lawas yang sudah mengakar dalam suku kami, kalaupun kami bukan pedagang kami yakin ada bagian lain yang boleh menjadi keahlian kami contoh seperti, pengacara, kontaktor, pengusaha karet (komoditas andalan daerah kami) dan lain sebagainya nantinya, 
Dari hari ini dan nanti kami generasi muda maanyan akan terus mendobrak kebiasaan ini, kami sadar keluar dari zona nyaman itu beresiko tapi terus diam terpasung dalam kebiasaan buruk ini jauh lebih berbahaya, kami tidak ingin generasi muda maanyan selalu menjadi generasi kacungan, yang berharap makan dari keringat rakyat/orng lain,
Demikian tulisan dari anak pelosok ini, salam joeang dari Politisi Muda Jalanan Maanyan.    

PEMUDA & POLITIK

                                                


                                 Oleh : Destano Anugrahnu

Hari ini hiruk pikuk Negara semakin kencang, kegaduhan terjadi dimana-mana dan Negara setengah kewalahan menghadapi goncangan tersebut, andai Negara ibaratkan manusia mungkin kepalanya sudah longor lelah berpikir dan menanggulangi mulai dari bencana, ancaman dari luar Negara dan kegaduhan dalam Negeri sendiri. Salah satu kegaduhan yang mana selalu menyumbang kegaduhan paling besar adalah politik, bagaimana tidak hari ini dari senayan sampai warung kopi orang hamper bisa dipastikan membicarakan tentang apa itu politik dan perkembangannya,politik seperti makanan pokok para elit penuh dengan pencitraan intrik dan trik dan masih lain sebagainya, tak cukup dengan itu berbagai isu pun menjadi bumbu yang digunakan untuk mempersedap politik tersebut agar tetap terlihat lezat di konsumsi publik dan
masyarakat luas, isu mengenai suku,ras, agama pun tak bisa dilepaskan di dalamnya. Politik yang mana secara teoritis seharusnya adalah suatu wadah/alat yang digunakan untuk
 mempersejahterkan kehidupan bermasyarakat dan bernegara tetapi hari ini menjadi momok yang menakutkan bagi kaum yang intelektualitasnya menengah dan kebawah kenapa dikatakan demikian karena banyak para guru besar, pengacara kondang, jaksa, polisi, PNS, politisi/elit partai bahkan hakim yang mana ada istilah sebagai perwakilan Tuhan dalam dunia ini pun terseret untuk duduk di kursi pesakitan bahkan mendekam di hotel prodeo akibat dari proses politik itu sendiri, bukankah menakutkan bagi masyarakat yang berasal dari kelas bawah? Disisi lain Partai politik yang mana seharusnya wadah yang memberikan pemahaman edukasi politik yang baik dan benar hari ini juga kehilangan identitas dirinya, yang mana semua orang mengetahui bahwa jika partai politik merupakan bagian dari alat memperjuang demokrasi itu sendiri justru wadah yang hari ini sebatas mempertahankan dan mengamankan kekuasaan para elit dan segelintir koleganya, ada pula lembaga keagamaan hari ini sedikit demi sedikit pun mulai tergerus ikut bermain di system perpolitikan, sementara jelas kita ketahui bersama lembaga keagamaan seharusnya berbicara tentang Ketuhanan tapi hari ini tidak jarang sebagai media paraelit memberikan dogma politik, bahkan menyerang/menjatuhkan lawan politiknya, jadi jangan dibicarakan lagi jika lembaga lain yang menamakan dirinya independen karna hampir semua hari ini lembaga dibuat untuk kepentingan penguasa dan elit. Ah lantas lembaga mana pula yang kini bisa menjadi wadah bagi orang muda bisa mengembangkan dirinya untuk memperjuangkan nasib orang banyak jika banyak lembaga selalu dipolitisasi untuk kepentingan? Sementara kita ketahui jika orang muda adalah generasi yang akan melanjutkan dan menentukan perjuangan kaum tua hari ini, dan jelas dari kualitas orang muda hari ini maju atau mundurnya suatu Negara/daerah ditentukan, jika demikian sentral peran dan fungsi orang muda hari ini kenapa para elit di negera/daerah kita tidak melakukan
pembinaan dan pengembangan generasi muda yang berkualitas dengan sediikit lebih serius, meski secara realistis kita menyadari memikirkan perut pribadi itu pun penting. Hari ini jika ada lembaga yang mengatasnamakan ingin melakukan pembinaan untuk kaum muda tanpa bersedia menjadi alat penguasa maka bersiaplah lembaga/organisasi itu akan vacuum baik karena di backup kegiatannya, maupun ketidakmampuan bergerak karena minim dukungan anggaran dan masih banyak masalah klasik lainnya. Namun melewati moment 88 tahun hari Sumpah Pemuda beberapa hari yang lalu kita selaku kaum muda dapat menjadikan ini titik balik untuk memperjuangkan kembali nasib dan keberadaan system perpolitikan Negeri ini kearah yang lebih baik, karena tak bisa di pungkiri jika secara history Negara kita peran dan fungsi orang muda tak bisa dipandang sebelah mata, jadi sekarang sebagai orang muda mari kita berduyun-duyun ikut terlibat dalam dunia perpolitikan dengan tetap menjaga idealistis diri jika sudah masuk dalam system karena itu adalah kemewahan terakhir yang konon hanya dimiliki orang muda, karenahanya duduk diam dan mengatakan bahwa dunia perpolitikan kita tidak baik tidaklah cukupdanberdampakpadaperubahan, kritikan takakan membawa perubahan karena pada dasarnya Ibu Pertiwi tidak memerlukan orang muda yang hanya banyak bicara melainkan orang muda yang hadir dengan aksi nyata, dengan demikian semoga perpolitikan bangsa ini dipulihkan layaknya sebagaimana mestinya sesuai dengan apa makna dari politik itu sendiri secara teoritis, penulis menutup tulisan ini dengan kata orang bijak yang demikian bunyinya “Negara ini akan mengalami kemunduran bahkan kehancuran bukan karena kehabisan orang baik, melainkan karena orang baik yang memilih diam dan tidak berbuat dalam kemengertiannya karena terbungkus ketakutan”.