Kamis, 31 Mei 2018

POLITIK IDENTITAS


Oleh : Destano Anugrahnu, SH
         

Demokrasi idealnya konon adalah sebuah pesta bagi semua lapisan masyarakat pada tingkat akar rumput, guna menentukan siapakah yang akan memimpin mereka menjadi pembawa aspirasi dan memperjuangkan setiap kerinduan yang mereka impikan selama ini. Ajang dimana para calon yang bertarung meyakinkan konstituennya dengan program andalan, yang dibungkus dalam visi dan misi pasanganya, yang mengakomodir setiap keluhan dan suara sumbang para pemilik kedaulatan tertinggi direpublik ini, guna kelak jika kepercayaan tersebut sudah dititipkan dalam bentuk jabatan mereka akan merealisasinya kedalam setiap bentuk kebijakan dan aturan yang diambil, diputuskan dan ditetapkan.  
Namun pada tahun 2018 ini, tahun politik yang berakhir cukup panjang atau mungkin yang terpanjang dalam sejarah republik Indonesia, dan dalam tahun politik ini tersaji suatu fakta dan realita yang  berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya  masyarakat dapatkan atau pelajari dari proses panjang demokrasi itu sendiri, dimana justru kebencian, isu SARA, aib dimasa lalu dan politik identitas secara khususnya yang di tonjolkan dan menjadi komoditi politik yang paling laku untuk dijual guna mengedukasi para konstituen politik, tidak ada lagi rekam jejak prestasi kinerja, keberhasilan dalam memimpin, ide dan gagasan yang besar yang di perdebatkankan melainkan identitas-identitas yang melekat pada diri para figur tersebut, bukankah sungguh suatu kemunduran dari proses yang sadari lama kita harapkan menghasilkan pemimpin yang membawa kemashalatan bagi semua kaum ini.
Politik identitas adalah strategi politik yang murni hanya untuk mengutamakan hasrat berkuasa rela memainkan propaganda,isu radikal guna mencapai kekuasaan tersebut, sungguh suatu kekejian dari para politisi republik kita mereka pertaruhkan masa depan persatuan dan kesatuan negeri demi hasrat pribadi dan kolega. Ini adalah kondisi yang sejak lama diharapkan para pihak diluar sana tanpa roket dan nuklir salah satu Negara dengan penduduk terbanyak didunia ini akhirnya saling meniadakan, boleh pula kita katakan genosida suatu suku bangsa oleh bangsa itu sendiri, suatu sejarah kebodohan yang akan terus ditertawakan dipergunjingkan sepanjang sejarah kehidupan bumi ini.
Penulis sebagai sebagian kecil dari orang yang begitu sadar upaya penciptaan keadaan perpecahan sesama anak bangsa ini berpikir kaum-kaum yang sepikir harus sesegera mungkin merapatkan barisan dan terus mengkampanyekan bahwa upaya ini harus kita lawan, kita harus bisa menahan diri untuk tidak ikut terlibat dan terpancing dengan situasi dan kondisi ini, kitalah yang harus mampu hadir guna menjahit luka yang menganga di sekujur tubuh ibu pertiwi ini, pesta demokrasi adalah hanya sebuah kompetisi yang perlima tahun akan terus terjadi di republik kita, tapi persatuan dan kesatuan anak negeri ini tidak akan mungkin bisa dipulihkan jika sudah terlanjur teramputasi, hanya akan ada sesal untuk esok jika semua kaum yang sadar, tahu dan paham hal ini mengatup mulutnya untuk bicara,menyatakan kebenaran, memberikan penyadaran bagi setidak-tidaknya mereka yang berada di sekeliling kita.
*Penulis adalah Pemuda Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah