Senin, 07 Agustus 2023

PERDAGANGAN KARBON DAN MASYARAKAT ADAT

(Foto karya Pritendi BIT)
Oleh: Destano Anugrahnu    

Sudah tentu bukan barang baru bila masyarakat kita mendengar pepatah “Kacang lupa akan kulitnya”, mungkin pepatah tersebutlah yang paling tepat dalam menggambarkan bagaimana hubungan masyarakat adat dan penyelenggara Negara di negeri ini dari berbagai periode dan masa, dimana dengan konsisten dapat disaksikan elit kekuasaan tersebut berupaya dengan segala macam aturan dan kebijakan untuk terus mengesampingkan atau mengabaikan--jika kata menggilas secara trengginas, keberadaan masyarakat adat di anggap berlebihan. Manifestasi konsistensi penyingkiran masyarakat adat itu terjelaskan dengan adanya sampai saat ini tunggakan terwujudkannya pengakuan dan perlindungan secara perundangan di tingkat nasional, proses pengakuan yang dibuat rumit dan berbelit dari berbagai tingkatan, pengabaian suara dan partisipasi yang bermakna dari masyarakat adat dalam setiap proses pembangunan dan kebijakan yang menempatkan mereka sebagai pihak yang paling terdampak pada akhirnya dan masih banyak lagi. Sementara teriakan dan ajakan untuk terus mencintai bangsa dan negara ini dalam sebuah bingkai persatuan menjadi paradoks lainnya, lantas dengan potret yang demikian masih pantaskah masyarakat adat berharap?

            Selanjutnya pada bagian yang terbaru, dengan meningkatnya intensitas perbincangan dunia internasional terkait perubahan iklim beserta kompensasi bagi negara yang mau dan mampu terlibat untuk berperan aktif dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca, pemerintah Indonesia pun mulai menerbitkan beberapa peraturan perundangan untuk mengatur cara mainnya proses dari perdagangan karbon ini sendiri, salah satunya yakni Peraturan Presiden Nomor 98 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon untuk Pencapaian Target Kontribusi yang ditetapkan secara Nasional dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca dalam Pembangunan Nasional, yang mana dalam bagian krusialnya dari peraturan ini selaku subjek penyelenggara nilai ekonomi karbon masyarakat adat tidak dimasukkan, sedangkan yang kita tahu selama ini salah satu pihak yang terus konsisten bahkan melawan jika dilakukan deforestasi pada hutan dan lahan secara besar-besaran oleh pelaku usaha yang dilegitimasi oleh pemegang kekuasaan justru masyarakat adat itu sendiri, protes langsung dilakukan oleh beberapa organisasi adat dan masyarakat adat untuk melakukan judicial review atas peraturan ini ke Mahkamah Agung yang teregister dengan nomor 61/P/HUM/2022, yang kemudian diputuskan oleh Mahkamah Agung yang menyatakan bahwa Masyarakat Adat merupakan penyelenggara nilai ekonomi karbon dalam pasal 46 ayat 2 huruf d Perpres nomor 98 tahun 2021, hal ini tentunya dikarenakan besarnya kontribusi masyaakat adat pada peningkatan cadangan karbon melalui pemanfaatan hutan dalam bentuk kegiatan usaha pemanfaatan jasa lingkungan.

            Putusan Mahkamah Agung tersebut tentu sebuah kabar baik dimana hukum pada sisi ini menjadi responsif atas keberadaan real ditengah masyarakat, akan tetapi juga menjadikan kita bingung nampak tidak berpengaruh besar pada peraturan hukum yang lainnya, yang jika kita baca pada bagian konsideran menimbangnya merupakan pengejewantahan dari Perpres nomor 98 tahun 2021, sebut saja dua peraturan terbaru yang dibuat Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan, PermenLHK nomor 21 tahun 2022 tentang Tata Laksana Penerapan Nilai ekonomi Karbon dan PermenLHK 7 tahun 2023 tentang Tata cara  Perdagangan Karbon Sektor Kehutanan yang pada bagian menimbangnya menjelaskan bahwa penjabaran lebih konkret dari PermenLHK nomor 21 tahun 2022 itu sendiri akan tetapi disayangkan tidak menggambarkan sama sekali hasil dari Putusan judicial review Mahkamah Agung, memang demikianlah fakta dan realita konkret yang penulis sudah terangkan pada bagian paragraf sebelumnya.

            Terakhir, situasi dan kondisi yang sedemikian setidaknya meninggalkan dua pekerjaan penting bagi masyarakat adat, organisasi yang melakukan pengorganisasian dan advokasi atasnya dan pihak yang memiliki nurani untuk ambil bagian berjuang bersamanya yakni pertama, krusial untuk secepatnya untuk melakukan penelitian dan kajian mendalam dibarengi penyebarluasan dan penyadartahuan informasi ini kepada setiap komunitas masyarakat adat itu sendiri agar mereka memiliki basic pengetahuan didalam membicarakan ini nantinya dan tidak untuk kesekiankalinya menjadi objek eksploitasi berbagai pihak pemangku kekuasaan sembari menyusun skema dan blue print tawaran yang menguntungkan masyarakat adat dalam konteks perdangang karbon sebagai konsekuensi logis atas konsistensi mereka dalam menjaga alam selama ini. Kedua, menyiapkan langkah litigasi dan non litigasi apa kedepan yang bisa dilakukan jika tawaran dan tuntutan masyarakat adat tidak mendapat respon yang sesuai oleh penyelenggara negara dan kekuasaan. Karena kenapa poin ini penting setidaknya menurut kacamata penulis, jangan sampai ketika kebijakan dan masa itu datang, masyarakat adat dan pendampingnya seperti orang yang ‘tiba masa tiba akal’, karena hal demikian umunya menempatkan pihak terkait pada posisi tawar yang tidak menguntungkan. sekian & terimakasih.

 

 

 

*Penulis adalah Pegiat Sosial Masyarakat Adat & Desa di Kalimantan Tengah 


 







Senin, 09 Januari 2023

MENUJU LORONG GELAP HUKUM & KEADILAN





















Oleh: Destano Anugrahnu

 

            Suara lonceng natal telah terdengar di berbagai pelosok dunia, tentu sebuah penanda tidak berapa lama lagi kita juga akan beranjak meninggalkan berbagai kisah dan cerita di tahun 2022 ini, tepatnya satu (1) hari lagi momentum transisi pergantian tahun tersebut akan terjadi. Dimana beberapa waktu yang lalu Presiden Jokowi meminta masyarakat berhati-hati mulai saat ini. Dia menyatakan tahun 2023 diprediksi akan menjadi tahun gelap akibat krisis ekonomi, pangan, hingga energi akibat pandemi Covid-19 dan perang antara Rusia-Ukraina. Jokowi mengaku mendapat prediksi itu setelah kedekatannya dengan Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), International Monetary Fund (IMF), hingga Kepala negara G7.Beliau-beliau menyampaikan 'Presiden Jokowi, tahun ini kita akan sangat sulit', terus kemudian seperti apa? 'Tahun depan akan gelap. Ini bukan indonesia, ini dunia, hati-hati '. Mengutip ujaran Jokowi saat membuka Silaturahmi Nasional Persatuan Purnawirawan TNI AD di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat, 5 Agustus 2022.  Termuat dalam ( https://nasional.tempo.co/read/1619508/presiden-jokowi-sampaikan-2023-bakal-jadi-tahun-gelap-untuk-semua-negara ). 

    Pernyataan Presiden sebagaimana penulis kutip dalam tulisan ini dari media tempo tentu bukan sebuah informasi yang menggembirakan, dimana seharusnya pada penghujung tahun sampai awal tahun berbagai pihak akan menyusun resolusi yang dilakukan pada tahun yang baru untuk menemukan penghidupan dan kehidupan yang lebih baik dari tahun sebelumnya , namun yang terjadi pada saat ini kita justru  disuguhkan sebuah pernyataan yang membuat banyak pihak harus penuh kewaspadaan dan kekhawatiran, karena tentu belum sepenuhnya kering luka dan tangis bangsa ini atas serangan badai pandemi covid-19 yang lalu, apalagi jika harus ada tahun yang gelap yang harus kita songsong pada tahun yang akan datang ini , akan tetapi kesiagaan dan kewaspadaan kita menyongsong tahun 2023 yang konon gelap ini harus tidak membuat kita kehilangan pengharapan, karena bagi mereka yang kehilangan pengharapan sebelum masa gelap itu tiba-tiba sesungguhnya adalah kaum yang telah ditaklukkan sebelum peperangan itu dimulai, sehingga kita harus bisa dan berani melihat dimana bayangan itu akan menjumpai bangsa ini, maka kita telah bersiap dengan perencanaan dan strategi untuk dapat menghidupkan lilin,obor bahkan pelita untuk menjadi cahaya pada masa yang gelap tersebut.

            Jika kita menggunakan hukum dan demokrasi sebagai instrumen pembanding pada tahun ini dan akan menemui kemungkinan akan masuknya kita ke lorong yang gelap tersebut memang sulit untuk dibantahkan, dimana kita melihat berbagai lembaga yang selama ini mampu memberikan secercah cahaya pengharapan bahwa bangsa ini akan terus mampu melewatinya berbagai badai dalam bernegara mulai kehilangan taji dan integritasnya, sebut saja seperti KPK, Mahkamah Konstitusi, Polri, DPR RI yang begitu menyedihkan melayani prestasi kerjanya, justru berbagai permasalahan yang kontra produktif yang mereka lakukan. Berbagai produk hukum seperti Undang-Undang Cipta Kerja, Undang-Undang Mahkamah Konstitusi,revisi KUHP dan lain sebagainya terus dibuat secara ugal-ugalan tanpa memperhatikan prosedur formil dan substansi materi yang dimuat hanya untuk kepentingan elit dan pihak tertentu saja. Fakta ini sejalan dengan tingkat kepuasan masyarakat terhadap penegakan hukum sebesar 64,55 persen. Namun dari hasil survei yang dilakukan 24 Juni-1 Juli 2022 kepuasan publik terhadap penegakan hukum turun menjadi 57,07 persen. Responden yang menyatakan tidak puas ada 33,17 persen, naik ketimbang survei sebelumnya pada Januari 2022 sebesar 29,67 persen. Hal serupa terjadi terhadap tingkat kepuasan publik dalam hal pelaksanaan demokrasi di Indonesia yang juga mengalami penurunan dari 70,08persen pada Januari 2022 menjadi 64,39 persen. Responden yang tidak puas dengan pelaksanaan demokrasi meningkat dari 20,90 persen menjadi 25,12 persen. Pelaksanaan demokrasi yang dimaksud antara lain kebebasan berpendapat, berorganisasi, unjuk rasa, dan lainnya.Mengutip (https://www.hukumonline.com/berita/a/hasil-survei-indopol--kepuasan-masyarakat-terhadap-penegakan-hukum-turun-lt62dfe07c8d9db/). 

    Tentu ada sanggahan mengukur potensi bangsa dan negara ini menuju tahun yang gelap hanya menggunakan indikator hukum dan demokrasi adalah sesuatu yang prematur, akan tetapi harus kita ingat pula dimana pada pasal 1 ayat 3 konstitusi kita menyebutkan Negara Indonesia adalah Negara dimana Hukum--sehingga membawa konsekuensi hukum tentu saja sebagai alat yang memegang peranan penting didalam kita bertata negara yang baik dan benar.

            Terakhir,   lantas rakyat dan mandat mana yang membuat aturan itu harus ada? Menyeret proses pembentukan  Undang-Undang asal ada, ugal-ugalan atau asal-asalan hanya akan mempercepat bangsa ini sampai pada lorong yang gelap tahun yang akan datang. Sekian & terima kasih.

  

*Penulis adalah pegiat Sosial di Kalimantan Tengah

 

Sabtu, 07 Mei 2022

ORGANISASI SIPIL TAK PANDAI MENGKONSOLIDASI DIRI

 

Oleh: Destano Anugrahnu


Tulisan ini akan dimulai dengan sebuah pendapat dari almarhum Asmara Nababan yang dituturkan kepada penulis secara lisan oleh seorang kawan lama tokoh gerakan masyarakat sipil tersebut, “Asmara pernah berujar katanya, jumlah orang (baca: kaum aktivis) yang seperti kita itu tidak banyak, jadi sudah seharusnya kita terus saling Asuh, Asah, dan Asih”, entah ini pendapat orisinal dari beliau atau pengalaman yang beliau pungut dalam perjalanan panjangnya didalam memperjuangkan hak-hak masyarakat sipil. Berangkat daripada hal tersebut nampak bisa menjadi batu uji didalam melihat dan merefleksikan progress daripada arah gerakan, keberadaan dan kehadiran organisasi-organisasi masyarakat sipil hari-hari ini. Apakah kemodernisasian zaman dan kecanggihan teknologi pada saat ini dikombinasikan dengan perjalanan panjang dalam pengalaman atas pengadvokasian dan atau pengorganisasian masyarakat sipil telah membuat organisasi-organisasi sipil itu berkonsolidasi secara terpadu atau adanya solidaritas yang tinggi atas sesama pekerja sosial tersebut, atau justru malah mengalami stagnanisasi bahkan kemunduran dari masa ke masa didalam kemampuan organisasi-organisasi sipil tersebut berkonsolidasi.

Kenapa konsolidasi organisasi-organisasi sipil menjadi perhatian penulis, yang mungkin sebenarnya isu terkait hal ini sudah sadari lama dibahas dan didiskusikan banyak pihak, hal ini dikarenakan melihat fenomena hari-hari ini dimana jika kita melihat Survei Charta Politika menyebutkan Tingkat Kepuasan Masyarakat kepada Pemerintah Turun, tingkat ketidakpuasan terhadap pemerintah ada di angka angka 35,7 persen. Jika dilihat dari tren, terjadi penurunan kepuasan kinerja Pemerintah sejak Januari 2022, pada sisi yang lain hasil survei LSI menyebutkan pula dalam hal terkait penegakan hukum ada 33,7 persen masyarakat yang menilai kondisi penegakan hukum Indonesia masih buruk dan sangat buruk. Tren buruk pada rana eksekutif dan penegakan hukum (yudikatif) tersebut nampaknya juga diikuti dengan lembaga legislatif kita, dimana hasil survei yang dilakukan lembaga Fixpoll Research and Strategic Consulting pada 16-27 Juli 2021 berdasarkan kinerja lembaga, MPR, DPR dan DPD mendapat tingkat kepuasan terendah. Responden yang puas dan sangat atas kinerja MPR hanya 14 persen, sedangkan yang tidak puas mencapai 28,4 persen. Sehingga membawa kita pada pertanyaan tentunya jika tiga (3) cabang kekuasaan utama yang diamanahkan guna dapat diharapkan mampu merumuskan arah kebijakan dan peraturan sekaligus memberikan rasa keadilan tersebut tidak mampu mewujudkan apa yang menjadi cita-cita kita bersama dalam bernegara dan berbangsa sebagaimana yang tertuang dalam bagian pembukaan konstitusi kita tepatnya pada alinea ke empat (4) yakni melindungi segenap tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka siapakah lagi yang mesti mengawal dan terus mempertanyakan keseriusan para penyelenggara negara dan pemegang kekuasaan kita saat ini untuk dapat mewujudkan cita-cita berbangsa tersebut? Dengan adanya pasal 1 ayat 2 UU NRI tahun 1945 yang menyebutkan “kedaulatan berada ditangan rakyat” di lanjutkan dengan pasal 28 UU NRI tahun 1945 yang menerangkan “kemerdekaan berserikat dan berkumpul mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan….” memang tidak disebutkan secara langsung peran dan fungsi dari organisasi-organisasi sipil akan tetapi tentunya jika kita interpretasi dan konstruksikan maka disinilah bagian atau titik singgung secara tersurat dari amanat konstitusi atas keberadaan dan peran penting organisasi-organisasi sipil tersebut.    

Akan tetapi perihal yang terjadi demikian nampaknya belum dilihat sebagai moment yang berharga bagi segenap organisasi-organisasi sipil untuk bisa terus mengisi setiap kekosongan atas ketidakhadiran lembaga dan penyelenggara negara atas kepentingan berbangsa dan bernegara, justru yang terjadi tidak jarang organisasi-organisasi sipil terjebak dalam perdebatan-perdebatan yang sama sekali non substansial seperti terkait jenis dari program kerja yang tidak sama, definisi atas subjek--objek yang diperjuangkan, klaim komunitas dampingan, organisasi mana yang seharusnya memimpin dan bahkan tak jarang perihal tidak terlibat aktif dalam konsorsium atau forum perjuangan bersama tertentu pun jadi bahan gunjingan, sungguh bagaimana potret organisasi-organisasi sipil seringkali ternyata bergulat dan berkutat dalam pembuangan energi pada hal yang tidak berarti, memang argumentasi budaya diskusi dan debat memang sulit dipisahkan dalam organisasi-organisasi sipil, karena tentunya ada keyakinan bahwa “solusi terbaik selalu hadir dari diskusi dan debat yang berbobot dan berkualitas”, akan tetapi yang mesti sama-sama mulai dipikir oleh para pegiat sosial yakni, kaum politisi peramu kebijakan yang minim keberpihakan pada masyarakat rentan atau kaum marjinal dan elit dari kekuasaan yang juga seringkali afiliasi dari kaum pemodal tidak pernah mau menunggu sampai solusi dari perdebatan itu berhasil, sehingga pilihan yang tersedia permakluman yang substansial--kalaupun komporomi dianggap kata yang politis digunakan, nampaknya alternatif yang mesti dikemukakan.

Bagian terakhir atas refleksi lewat tulisan ini yakni, adanya covid-19, narasi semuanya demi kepentingan pembangunan, peningkatan investasi guna pendapatan negara meski mengabaikan peraturan perundang-undangan, nampaknya sudah membuat kebingungan ditengah masyarakat yang nyatanya dampak atas perubahan dan atau perbaikan nasib penghidupan rakyat tak juga kunjung konkret dirasakan yang dibuktikan dan termanifestasi dengan ketidakpuasan masyarakat atas kinerja pada tiga elemen kekuasaan sebagaimana data yang diterangkan pada bagian sebelumnya, belum lagi jika kita lihat hari-hari ini dimana adanya tren mulai menjamurnya organisasi-organisasi sipil yang ternyata secara gagasan merupakan bentukan dari elit politik atau kekuasaan untuk meligitimasi setiap tindakan dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan kekuasaan yang tentu tujuannya tidaklah lain daripada memecah belah semangat, solidaritas dan kekritisan rakyat, sehingga rentetan peristiwa tersebut semestinya menjadi perenungan kembali bagi organisasi-organisasi sipil, ada bahaya laten yang saat ini sedang terjadi dan memerlukan penanganan segera, yang mesti memerlukan perencanaan strategi dari tingkat akar rumput sampai dengan nasional bahkan internasional, yang juga membawa konsekuensi tidak akan mungkin bisa ditangani secara perorangan atau satu/dua lembaga saja, sehingga saat ini merupakan moment yang tepat bagi semua pihak untuk tidak lagi mengedepankan ego besar atau kecilnya lembaganya, atau siapa yang senior dan junior, strategi lembaga mana yang paling benar, melainkan siapa dapat berbuat apa dalam konteks dan isu yang mana sehingga membawa pada sebuah solusi bersama dan tujuan bersama, tanpa hal demikian maka organisasi-organisasi sipil akan terus terjebak dalam perjuangan yang nampak banyak berbuat tapi sesungguhnya minim berdampak, atau istilah penulis “seruduk babi” dalam ruang hampa.

Senin, 14 Maret 2022

DI NUSANTARA, LANTAS DAYAK DAPAT APA?

Oleh: Destano Anugrahnu

 

            Tatkala Presiden Joko Widodo mengumumkan secara resmi jika Kalimantan Timur sebagai lokasi perpindahan ibu kota baru dari Republik Indonesia, pada tanggal 26 agustus 2019 tentu kita tidak lupa moment dan peristiwa tersebut, secara rentetan ada banyak reaksi yang terjadi, ada kritik tajam bahkan sampai pada penolakan dari mereka yang didominasi oleh masyarakat non Kalimantan, sementara pada sisi yang lain kebijakan ini mendapat dukungan yang kuat dan hebat bagi para warga masyarakat pulau Kalimantan. Pembicaraan pra dan pasca penetapan kebijakan tersebut menjadi hal yang tidak terhindarkan sebagai topik perbincangan oleh politisi, akademisi, praktisi, bahkan masyarakat awam di seluruh pulau Kalimantan, baik pada kegiatan berbentuk FGD, sosialisasi, sampai pada obrolan warung kopi, ada banyak analisis, kajian bahkan sampai pada spekulasi terkait diambilnya kebijakan ini, bahkan bagi sebagian besar masyarakat awam Kalimantan yang tulus dan polos berpikir, setelah sekian lama memilih setia dan taat sebagai bagian dari NKRI ini, ada kebijakan yang mau melihat Kalimantan melewati sumber daya Manusianya untuk mampu menjadi tuan dirumah dan kampung halamannya, bisa berkontribusi bagi Indonesia, bisa mendapat pembangunan yang merata dan kebijakan yang penuh keberpihakan dan berbagai ekspektasi liar yang sebenarnya juga tidaklah berlebihan setelah sekian lama nampak hanya sebagai pemain cadangan jika kita analogikan dalam permainan sepakbola.

            Rentetan peristiwa selanjutnya jika kita urai tentang ibukota juga membawa kita pada refleksi dimana beberapa saat yang lalu dikala seorang edi mulyadi melontarkan sebuah kalimat bernuansa penghinaan atas Kalimantan yang salah satunya dilatarbelakangi oleh pemindahan ibu kota ini melewati video pendeknya yang tersebar pada hampir semua platform media sosial pun membuat geger dan gelombang demonstrasi di hampir seluruh wilayah Kalimantan dan mengundang pemberitaan berbagai media dari lokal Kalimantan sampai pada Nasional, yang akhirnya menyeret pelaku pada proses hukum, dan juga sampai membuat berbagai kalangan yang tergabung dalam Aliansi Borneo Bersatu mendatangi komisi III DPR RI untuk melakukan audiensi atau rapat dengar pendapat tepatnya pada tanggal 27 januari 2022, yang mana jika kita kupas lebih jauh dikala upaya audiensi atau rapat dengar pendapat tersebut juga terselip harapan yang sangat besar agar nantinya yang ditunjuk oleh Presiden untuk memimpin badan otorita Ibu Kota Negara yang baru adalah putra daerah asli Kalimantan.

            Selanjutnya keseriusan keinginan adanya refresentasi nyata dari pemimpin Badan Otorita IKN tersebut juga nampak ditindak lanjutinya dengan adanya pertemuan di Jakarta pada 28 februari 2022 para tokoh adat masyarakat Kalimantan, yang dihadiri langsung oleh Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Bapak Martin Billa, Sultan Kutai Kartanegara, Bapak Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, Sultan Paser bapak Aji Muhammad Jarnawi, Sultan Banjar, Bapak Haji Khairul Saleh Al Mu’thasim Billah, dan Ketua Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Tengah, Bapak H. Agustiar Sabran, yang mana dalam pertemuan tersebut juga melahirkan lima (5) maklumat penting yang juga selanjutnya membuat forum pertemuan tersebut dinamai Forum Maklumat Rakyat Kalimantan, yang mana mengusulkan salah satu poin pentingnya adalah adanya kebijakan untuk putra-putri Kalimantan dapat mengisi posisi strategis di Badan Otorita IKN Nusantara. Akan tetapi pada 10 Maret 2022 dikala Presiden menentukan sekaligus melantik ketua dan wakil dari Badan Otorita IKN nampak harapan, keinginan, usulan atau bahkan maklumat yang disampaikan sebelumnya dari berbagai tokoh Kalimantan tersebut nampaknya tidak pula membuat presiden berkenan untuk memilih putra putri terbaiknya, tokoh dan masyarakat Kalimantan boleh berencana saja namun tetap pak Presiden jua yang menentukannya. Selanjutnya daripada peristiwa tersebut membawa kita pada beberapa pertanyaan, apakah kata-kata para tokoh Kalimantan hari-hari ini nampak tidak memiliki daya paksa dan wibawa di dalam Istana sana? ataukah Masyarakat Kalimantan sadari awal memang tidak pernah dianggap ada dan cukup biasa sebagai penonton saja?

            Terakhir, berbagai respon atas siapa yang dipercayakan dalam memimpin Badan Otorita IKN memang hal yang wajar saja, selain itulah bukti adanya dinamika proses partisipasi masyarakat dalam kebijakan publik, juga bukti konsekuensi dari sistem demokrasi dalam bernegara. Adanya argument jika penentuan pimpinan badan otorita adalah prerogatif Presiden, atau pendapat bahwa IKN adalah bukan milik orang Dayak saja, atau pendapat dari sisi profesionalitas yang ditunjuk juga sah-sah saja dan menstandarkan pimpinan Badan Otorita sebagai keadilan kebijakan juga pardigma berpikir yang dangkal tentunya, akan tetapi hendaknya pun kita tidak lupa, jika selama ini politik anggaran yang selalu disandarkan pada kuantitas penduduk model Jawa sudah sadari lama kita nikmati dan membuat kita nampak jadi anak tiri, proses yang rumit dan berbelit dalam perjuangan pengakuan dan perlindungan masyarakat adat kita (baca;Dayak) beserta hak-hak asal usulnya juga sudah terjadi sadari lama--kalaupun kata ketiadaan dinilai sebagai sesuatu yang berlebihan, kekayaan dan pajak batubara kita diperkosa dan diangkut semua ke Jakarta sementara kita perkara listrik masih sulit memenuhinya, tanah kita dirampas untuk disulap menjadi ladang perkebunan sawit tapi perkara minyak goreng kita ikut barisan antriannya, hutan yang berisi kayu kita habis dijarah dengan legal aturan dan undang-undang kita kebagian banjir dan bencananya, lantas sejak awal Dayak sebagai masyarakat asli pulau Kalimantan dapat apa dari kesepakatan kita berNKRI ini? Jika terus untuk kesekian kalinya lagi dan lagi kita hanya menjadi penonton dari asiknya mereka berpesta ditanah dan kampung halaman kita ini. Selanjutnya peristiwa penting ini membawa kita pada perenungan--kalaupun tamparan dianggap kata yang tak sopan sebagai orang timur disampaikan, membawa lembaga pendidikan dan kampus kita pada pertanyaan dan tantangan untuk mampu menjadi produsen kaum intelektual yang memiliki kualitas, integritas dan akuntabilitas keilmuan agar kita bukan lagi sebagai warga kelas dua di negeri ini karena alasan ketiadaan sumber daya manusia yang layak memimpin, lembaga pendidikan dan kampus kita selanjutnya bukan hanya dijadikan sebagai wadah pabrik kaum berijazah atau menstandarkan pencapaian dengan peringkat-peringkat administarsi saja, lembaga politik lokal dan politisinya juga hendaknya memberikan pendidikan politik yang mengandung keberpihakan, bukan justru hoby mempertontonkan masyarakat Dayak dalam perdebatan yang hanya mengandung sensasi tapi seharusnya mendidik dalam perdebatan yang esensi, dan juga para tetua ataupun tokoh adat kita mulailah membangun mimpi bersama dikalangan masyarakat adat Dayak sendiri, bukan hanya sebagai wadah mencari makan perut pribadi atau tempat menyusui kepentingan golongan untuk eksistensi diri, atau justru sebagai kendaraan politik dan alat menaklukkan kekritisan dan akal sehat sesama Dayak itu sendiri. Mampukah kita sama-sama untuk melakukan hal yang demikian? Tentunya jawabannya ada pada diri dan hati kita yang merasa benar dan sungguh masih seorang Insan Dayak. Sekian & terimakasih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*Penulis adalah Pegiat Sosial Masyarakat Adat & Desa di Kalimantan Tengah (Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin)    









 

Sabtu, 04 Desember 2021

PUTUSAN MK: ANTARA APRESIASI & SANGSI

 Oleh: Destano Anugrahnu

 

            Tentu masih teringat jelas bagi kita pada tahun 2020 yang lalu bagaimana masifnya teriakan dari toa dan pengeras suara dimana-mana, spanduk dengan berbagai kata, kalimat dan tulisan yang berisi penolakan dan kecaman ataupun kalimat-kalimat sarkas pun tak terhitung jumlahnya, apparat penegak hukum dengan tameng, gegada ataupun rotan yang sedang berjaga nampak akrab dikala itu, mobil penegak hukum yang biasanya memuat cairan gas air mata menderu mengelilingi kota keluar dari sarangnya, dan sesekali dengan ganasnya memuntah cairannya guna membubarkan massa yang nampak mulai tak kondusif lagi dalam menyampaikan orasi-orasinya, yang seringkali pula dipicu oleh provokator yang tak jelas dari mana datangnya, yang nampak sudah terencana untuk membenturkan apparat dan massa yang sama-sama sedang terpanggang dibawah terik matahari. Pemandangan yang demikian pada tahun lalu memang akrab kita saksikan di televisi ataupun di media-media sosial, demonstrasi yang nampak serentak tersebut merupakan hilir dari penolakan kaum buruh dan serikatnya, petani, mahasiswa, aktivis lingkungan, kaum miskin kota dan banyak elemen lainnya pasca ditetapkannya Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja yang sering disebutkan dengan Rancangan Undang-Undang Cilaka, penolakan tersebut sebenarnya merupakan akumulasi dari penolakan yang dilakukan jauh-jauh hari yang tidak mendapatkan perhatian, tanggapan dan ruang dialog bagi massa tersebut.

            Klimaks dari penolakan tersebut pun dibawa kepada mahkamah konstitusi untuk meminta pengujian baik secara formil dan materilnya, selanjutnya pada hari rabu, tanggal tiga, bulan november, tahun 2021, dan pada hari kamis, tanggal empat, bulan november, tahun 2021, yang diucapkan dalam sidang pleno mahkamah konstitusi terbuka untuk umum pada hari kamis, tanggal dua puluh lima, bulan november, tahun2021, selesai diucapkan pukul 13.17 WIByang lalu, Mahkamah Konstitusitelah memutuskan melewati putusannya Nomor 91/PUU-XVIII/2020 berkaitan pengujian atas Undang-Undang nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja sebagaimana yang mendapat protes keras dari berbagai kelas sosial di tahun 2020 yang lalu, dimana dalam pokok permohonanmenerangkan yakni

1.    Menyatakan permohonan Pemohon I dan Pemohon II tidak dapat diterima; 

2.    Mengabulkan permohonan Pemohon III, Pemohon IV, Pemohon V, dan Pemohon VI untuk sebagian; 

3.    Menyatakan pembentukan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak dimaknai “tidak dilakukan perbaikan dalam waktu 2 (dua) tahun sejak putusan ini diucapkan”; 

4.    Menyatakan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573) masih tetap berlaku sampai dengan dilakukan perbaikan pembentukan sesuai dengan tenggang waktu sebagaimana yang telah ditentukan dalam putusan ini; 

5.    Memerintahkan kepada pembentuk undang-undang untuk melakukan perbaikan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak putusan ini diucapkan dan apabila dalam tenggang waktu tersebut tidak dilakukan perbaikan maka Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573) menjadi inkonstitusional secara permanen; 

6.    Menyatakan apabila dalam tenggang waktu 2 (dua) tahun pembentuk undang-undang tidak dapat menyelesaikan perbaikan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573) maka undang-undang atau pasal-pasal atau materi muatan undang-undang yang telah dicabut atau diubah oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573) dinyatakan berlaku kembali; 

7.    Menyatakan untuk menangguhkan segala tindakan/kebijakan yang bersifat strategis dan berdampak luas, serta tidak dibenarkan pula menerbitkan peraturan pelaksana baru yang berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573); 

8.    Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya; 

9.    Menolak permohonan para Pemohon untuk selain dan selebihnya. 

            Jenis putusan yang demikian menurut beberapa literatur dan ahli di katagorikan dengan jenis putusan inkonstitusional bersyarat. Adapun model putusan-putusan Mahkamah Konstitusi dari pengamatan dan referensi yang penulis pahami dari tahun ke tahun dibagi pada 5 model, di antaranya tersebut yakni:

a)     Model putusan yang secara hukum membatalkan dan menyatakan tidak berlaku (Legally Null and Void);

b)    Model putusan konstitusional bersyarat (conditionally constititional);

c)     Model putusan inkonstitusional bersyarat (conditionally unconstititional);

d)    Model putusan yang menunda pemberlakuan putusannya (limited constitutional dan

e)     Model putusan yang merumuskan norma baru;         

            Berkaitan dengan Putusan inkonstitusional bersyarat pertama kali dipraktikan oleh MK dalam Perkara Nomor 4/PUU-VII/2009 bertanggal 24 Maret 2009 tentang pengujian Pasal 12 huruf g dan Pasal 50 ayat (1) huruf g Undang-UndangPemilu DPR, DPD, dan DPRD dan Pasal 58 huruf f Undang-UndangPemda yang melarang seseorang untuk dapat mencalonkan diri sebagai calon anggota DPR, DPD, dan DPRD serta sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala jika pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebihterdapat beberapa putusan pengujian undang-undang terhadap UUD 1945 yang dalam amarnya memuat putusan inkonstitusional bersyarat ditemukan sebanyak 31 putusan, akan tetapi yang perlu dicatat putusan inkonstitusional bersyarat tersebut umumnya dalam konteks pengujian materil bukan formil.

            Sementara dalam konteks Undang-Undang Cipta kerjaini dari aspek formil setelah diajukan uji materi (judicial review) ke Mahkamah Konstitusi (MK) sesuai ketentuan Pasal 24C UUD 1945 agar MK menguji dan menafsirkan dari aspek formil, apakah Undang-Undang Ciptakerja ini melanggar prinsip-prinsip konstitusional yang diatur dalam UUD 1945 telah dipertimbangkan bahwa Undang-Undang Cipta Kerja ini tidak memenuhi syarat Undang-Undangatau cacat secara formil sebagaimana diatur dalam Undang-UndangNo. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan sebagaimana yang tertuang dalam pertimbangan hukum Mahkamah Konstitusi poin 3.20.3Dalam ilmu hukum dan perundang-undangan (legal drafting) secara teori dan praktik jika suatu Undang-Undang dinyatakan oleh Mahkamah Konstitusi secara formil pembuatannya melanggar konstitusi, maka sudah pasti Undang-Undang ini batal demi hukum. Sehingga pada saat ini membuat para akademisi dan praktisi pada sebuah pertanyaan yang besar atas terobosan hukum dari putusan Mahkamah Konstitusi dalam pengujian Undang-Undang Cipta Kerja ini.

 

            Terakhir, putusan Mahkamah KonstitusimelewatiputusannyaNomor 91/PUU-XVIII/2020berkaitan pengujian atas Undang-Undang nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja tentu layak kita apresiasi karena merupakan secercah harapan atas kegersangan kepercayaan publik pada hukum disaat ini, dan juga penggambaran masih adanya integritas Sumber Daya Manusia dari marwah lembaga Mahkamah Konstitusisebagai The Guardian of constitution dan The Guardian of human right ini, dan tentu besar harapan sekaligus keyakinan kita pemberian putusan inkonstitusional bersyarat sebagaimana pengujian atas Undang-Undang Cipta Kerja ini bukan karena hakim-hakim MK terbawa sindrom terhutang budi& tersandera jasa ” karena telah diberi kompensasi oleh DPR dan Pemerintah melalui revisi UU MK beberapa waktu lalu yang salah satunya berkaitan masa jabatan hakim  dari 5 tahun menjadi 15 tahun dan usia hakim Konstitusi yang sebelumnya dari 60 tahun menjadi 70 tahun, karena sekali lagi umumnya putusan inkonstitusional bersyarat itu untuk pengujian perundang-undangan secara materil bukan formil. Yang tentu kita sama-sama tahu fungsi dari hukum adalah untuk ketersedian dan pemenuhan sebuah keadilan, sementara keadilan bukanlah hasil akhir dari proses awal jika sejak semula mengabaikan proses yang semestinya. Hasil akhir dari proses yang tidak adil bukanlah keadilan “Lex Rejicit Superflua, Pugnantia, Incongrua (Hukum menolak hal yang bertentangan dan tidak layak)”.