Kamis, 04 Januari 2018

DEMOKRASI YANG DEWASA




Oleh : Destano Anugrahnu, SH

                Jika bicara perihal demokrasi tentu tak akan cukup secangkir kopi untuk menemukan kesamaan definisi dari kata Sembilan huruf ini, dari politisi jalanan sampai  politisi senayan pun tentu punya persepsi yang berbeda-beda akan kata ini. Sebenarnya kata demokrasi semakin kita kenal dan sering kita pergunjingkan sejak jatuhnya orde baru dan masuknya kita dalam masa reformasi,  karena di masa sebelumnya demokrasi hanya formalitas belaka, artinya demokrasi dikebiri.
            Masa reformasi selalu dikaitkan dengan kebangkitan demokrasi, hal ini dikarenakan Pertama kali Pemilu dilaksanakan sebenarnya, ditandai lahirnya multi partai politik, pers mulai berani objektif mengabarkan dan menuliskan suatu kejadian peristiwa. Secara umum demokrasi sering di artikan suatu kebebasan bersikap, mengekspresikan sesuatu yang tentunya dengan batasan-batasan norma di masyarakat dan norma hukum.
            Sejak demokrasi semakin dipahami di Indonesia siapa saja bisa menjadi apa saja, meski tetap harus diakui demokrasi Indonesia masih perlu banyak penyempurnaan guna peningkatan kualitas demokrasi itu sendiri.
            Karena hari ini salah satu sikap bangsa kita yang masih keliru yakni kita selalu merindukan demokrasi yang berkualitas tapi kita belum mempersiapkan diri yang dewasa dalam berdemokrasi itu sendiri,   sebagai contoh setiap Pemilihan Umum (PEMILU) entah untuk Presiden, Gubernur, Bupati bahkan Kepala Desa bangsa kita pasti akan terjadi kegaduhan, di tingkat masyarakat akan terbelah menjadi kubu-kubu yang saling serang, jika perang kubu tersebut masih untuk ide, gagasan, visi & misi tentu tidak ada yang salah karena itu hakikat demokrasi itu sendiri, tapi jika perang itu sudah mengacu pada sikap menebar kebencian, menguliti masalah Suku, agama, dan ras tentu hal-hal yang semacam ini memicu perpecahan.
            Jika demikian, apa arti demokrasi kita pertahankan di Indonesia jika di demokrasi itu sendiri membuka kran perpecahan anak bangsa, apakah tidak sebaliknya kita kembali di pimpin generasi otoriter agar semua anak bangsa bersatu padu melawannya, karena justru dengan demikian persatuan nampaknya lebih elok. Pada 2018 pemilihan serentak akan dilaksanakan ini kembali akan menguji sejauh mana kedewasaan bangsa ini, jika tetap tidak ada beda perlu dipikirkan apakah tidak kembali ke masa orde baru saja. Sekian dan Terimakasih
*Ketua Himpunan Pemuda & Mahasiswa Barito Timur di Palangka Raya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar