Oleh
: Destano Anugrahnu
Suhu
perpolitikan menjelang tahun 2019 semakin panas saja, hal itu ditambah pasca
diumumkannya pasangan bakal calon Presiden & wakil presiden dari
masing-masing partai politik, yang sejauh ini kita amatai mengikuti pemberitaan
media cetak, televise, maupun online merupakan sebuah pertandingan ulang
Pilpres 2014 hanya saja dengan wajah baru untuk posisi wakilnya meskipun untuk
skala nasional mereka adalah pemain lama yang bisa kita cek sumbangsih kerjanya
selama ini melewati jejak media.
Namun
bangsa Indonesia tidak boleh terbawa dalam manisnya media dalam membingkai
peristiwa pendaftaran bakal calon presiden ini sehingga melupakan dalam waktu
dekat pula sebelum menentukan pemimpin negeri ini kita akan terlebih dahulu memilih
beberapa refresentatif kita di Parlemen, baik tingkat Kabupaten/kota, Provinsi,
bahkan nasional untuk DPR RI. Karena merekalah bagian penting lain yang tidak
bisa dilepaskan dalam proses pesta demokrasi untuk masa ini, karena kita harus
bisa menentukan kepada siapa amanah kita kedepan akan di titipkan, idealnya hanya
mereka yang bersuara lantang & mengerti apa yang menjadi kerinduan
masyarakat ini, mereka yang berani bersuara kencang saat jajaran eksekutif
mulai keluar rel sebagaimana aturan mengaturnya, yang memiliki integritas
tinggi dalam konsistensinya melaksanakan proses ceck & balance bersama eksekutif, mereka yang meramu anggaran
tepat sasaran bukan pesanan kaum pemodal, mereka yang menempa aturan guna
kemaslahatan rakyat, dan yang bermata elang mengawas setiap perencanaan
tersebut jika sudah mulai di biaskan.
Tahun
ini para calon penghuni parlemen tersebut sudah mulai ramah, senyum-senyum
manis, ada kegiatan keagamaan hadir jarang alfa, ringan tangan membantu baik
materill maupun moril, lagu-lagu lama mulai mereka dendangkan guna menina
bobokan rakyat, saat kita tidur mereka pun beramai-ramai menjarah segala
peluang yang bisa di uangkan guna memperkaya diri sendiri dan kolega.
Namun
di tahun ini pula ada yang membuat kita berselera ibarat makan ada menu baru
yang ditawarkan pilar-pilar demokrasi kita yakni menjamurnya para caleg (calon legislatif) yang secara
usia dan pengalaman sangatlah ranum,
namun kaum aktivis kampus pernah bahkan terkesan sering mengatakan bahwa pemuda
adalah generasi perubahan, dasar pemikiran itu menggunakan landasan sebuah
penggalan jargon yang pernah di kumandangkan Presiden pertama Indonesia Bung
Karno “berikan aku 10 pemuda maka akan ku
goncangkan dunia” yang tentu menggetarkan bulu kuduk kita, jika demikian
kebenaran yang terjadi maka pengharapan baru di pundak mereka & tentunya rakyat
memiliki alternatif baru dan menjanjikan kesejahteraan.
Namun
jika ternyata kehadiran & partisipasi kaum muda dalam pesta demokrasi ini
hanya sebagai wadah mencari panggung untuk mempromosikan diri serta menjadi
alat partai maka sangat memilukan, dan yang lebih parah lagi jika ikutsertanya
kaum muda ini dalam pemilihan legislatif tahun 2019 nanti ternyata sebatas
pelengkap agar qorumnya intruksi pengurus partai di pusat serta harus adanya
30% keterwakilan perempuan, sungguh menyedihkan artinya kaum generasi perubahan
republik yang diberi kesempatan tidaklah lebih dari BONEKA PARTAI & SINGA ELIT YANG DISIAPKAN UNTUK MENGGARONG UANG
RAKYAT, dan yang bersangkutan tak lagi menjadi bagian orang muda yang
memiliki idealisme terakhir yang konon hanya dimiliki kaum muda di NKRI
tercinta ini.
*Penulis adalah Ketua Himpunan
Pemuda & Mahasiswa Barito Timur Kalimantan Tengah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar