Oleh
: Destano Anugrahnu, SH
Demokrasi
idealnya konon adalah sebuah pesta bagi semua lapisan masyarakat pada tingkat
akar rumput, guna menentukan siapakah yang akan memimpin mereka menjadi pembawa
aspirasi dan memperjuangkan setiap kerinduan yang mereka impikan selama ini.
Ajang dimana para calon yang bertarung meyakinkan konstituennya dengan program
andalan, yang dibungkus dalam visi dan misi pasanganya, yang mengakomodir
setiap keluhan dan suara sumbang para pemilik kedaulatan tertinggi direpublik
ini, guna kelak jika kepercayaan tersebut sudah dititipkan dalam bentuk jabatan
mereka akan merealisasinya kedalam setiap bentuk kebijakan dan aturan yang
diambil, diputuskan dan ditetapkan.
Namun
pada tahun 2018 ini, tahun politik yang berakhir cukup panjang atau mungkin
yang terpanjang dalam sejarah republik Indonesia, dan dalam tahun politik ini
tersaji suatu fakta dan realita yang berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya
masyarakat dapatkan atau pelajari dari
proses panjang demokrasi itu sendiri, dimana justru kebencian, isu SARA, aib dimasa lalu dan politik
identitas secara khususnya yang di tonjolkan dan menjadi komoditi politik yang
paling laku untuk dijual guna mengedukasi para konstituen politik, tidak ada
lagi rekam jejak prestasi kinerja, keberhasilan dalam memimpin, ide dan gagasan
yang besar yang di perdebatkankan melainkan identitas-identitas yang melekat
pada diri para figur tersebut, bukankah sungguh suatu kemunduran dari proses
yang sadari lama kita harapkan menghasilkan pemimpin yang membawa kemashalatan
bagi semua kaum ini.
Politik
identitas adalah strategi politik yang murni hanya untuk mengutamakan hasrat
berkuasa rela memainkan propaganda,isu radikal guna mencapai kekuasaan
tersebut, sungguh suatu kekejian dari para politisi republik kita mereka
pertaruhkan masa depan persatuan dan kesatuan negeri demi hasrat pribadi dan
kolega. Ini adalah kondisi yang sejak lama diharapkan para pihak diluar sana
tanpa roket dan nuklir salah satu Negara dengan penduduk terbanyak didunia ini
akhirnya saling meniadakan, boleh pula kita katakan genosida suatu suku bangsa
oleh bangsa itu sendiri, suatu sejarah kebodohan yang akan terus ditertawakan
dipergunjingkan sepanjang sejarah kehidupan bumi ini.
Penulis
sebagai sebagian kecil dari orang yang begitu sadar upaya penciptaan keadaan
perpecahan sesama anak bangsa ini berpikir kaum-kaum yang sepikir harus
sesegera mungkin merapatkan barisan dan terus mengkampanyekan bahwa upaya ini
harus kita lawan, kita harus bisa menahan diri untuk tidak ikut terlibat dan
terpancing dengan situasi dan kondisi ini, kitalah yang harus mampu hadir guna
menjahit luka yang menganga di sekujur tubuh ibu pertiwi ini, pesta demokrasi
adalah hanya sebuah kompetisi yang perlima tahun akan terus terjadi di republik
kita, tapi persatuan dan kesatuan anak negeri ini tidak akan mungkin bisa
dipulihkan jika sudah terlanjur teramputasi, hanya akan ada sesal untuk esok
jika semua kaum yang sadar, tahu dan paham hal ini mengatup mulutnya untuk
bicara,menyatakan kebenaran, memberikan penyadaran bagi setidak-tidaknya mereka
yang berada di sekeliling kita.
*Penulis
adalah Pemuda Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah
