Oleh
: Destano Anugrahnu
Universitas Palangka Raya adalah salah satu Perguruan
Tinggi tertua & terbesar yang ada di
Provinsi Kalimantan Tengah kota Palangka Raya, yang mana setiap 2 kali per
tahunnya selalu mengeluarkan lulusan tidak pernah kurang dari ribuan
wisudawan/wisudawati, oleh karena itu Perguruan Tinggi ini menjadi salah satu
destinasi pendidikan favorit siswa menengah atas yang akan melanjutkan
pendidikannya ke tahap perkuliahan di Kalimantan Tengah.
Ditengah begitu digemarinya lembaga pendidikan ini masih
tersisa berjibun masalah klasik rumah tangga yang tersisa dalam wadah
pendidikan ini, dari masalah biaya kuliah, korupsi anggaran, suap, jual beli
nilai & tugas akhir seakanpun sulit dibendung, bahkan akhir-akhir ini
banyak opini nakal beredar berkaitan masalah “dinasti kekuasaan”.
Sejak 19 juli 2017 lalu tahapan pemilihan pucuk pimpinan
tertinggi lembaga pendidikan ini sudah ramai diperbincangkan karena
keberlanjutan nahkoda Univeristas ini sedang dalam pembahasan ada enam calon
yang sudah mendaftarkan diri, kegaduhan publik muncul ditambah lagi mundurnya
sang petahana UPR, apa yang terjadi? apakah ini strategi mundur satu langkah
untuk ambil ancang-ancang supaya bisa lebih dahulu mencapai finish menggunakan “kuda yang lebih segar”, lantas apa yang
bisa mahasiswa lakukan dalam masalah ini?
Organisasi kemahasiswaan Universitas ini beberapa bulan
yang lalu memang telah melakukan aksi yang luar biasa menjadi obrolan khalayak
ramai yakni aksi 10 april 2017 lalu ada banyak tuntutan yang mereka sampaikan
mulai dari transfaransi masalah anggaran, tidak percayanya lagi organisasi
mahasiswa dengan pimpinan Universitas sampai peninjauan mahalnya biaya kuliah,
pro dan kontra terjadi banyak yang bersimpati atas aksi ini sebagai bukti
idealisme mahasiswa itu masih terpampang nyata namun tidak sedikitpula yang
ikut menuding aksi ini tidak terlepas jelang pemilihan pucuk pimpinan lembaga
tertinggi pendidikan ini, hal ini tentu sangat sulit dipahami bagi mahasiswa di
akar rumput dua opini yang beredar ini serba membingungkan.
Atas permasalahan ini Mahasiswa tentunya harus mampu
menjawab semua tudingan publik, bersihkan semua pengurus yang ada terindikasi
memiliki kepentingan baik di internal kampus maupun eksternal kampus, jangan berikan
tempat bagi mereka yang ikut dan berperan aktif dalam Organisasi sayap-sayap
partai karena mereka tentunya akan mendapat pesanan dari masing-masing
lembaganya, tetap menjaga nama baik Mahasiswa karena kaum inilah yang konon
pemilik idealisme itu, tetap sebagai polisi moral penyuara parlemen jalanan
karena history Republik ini pernah tertulis jika ditangan Mahasiswa lah
perubahan besar terjadi, mulailah menghadirkan perubahan itu di lingkungan
kampus kebanggaan kita ini, jangan sampai terbeli kepentingan saat kaum
cendikiawan idealis ini sudah terbeli masyarakat kelas bawah akan kehilangan
teman berjuang. Awasi pemilihan tampuk pimpinan UPR kita ini, ini saat titik
balik menghadirkan pemimpin yang melayani dan membawa UPR sebagai kampus yang
lebih berintegritas, berkualitas dan transfaran, di bahu kalianlah perubahan
sistem pendidikan di tingkat perkuliahan masyarakat Kalimantan Tengah ini maju,
mundur atau diam di tempat.
*Ketua Himpunan Pemuda & Mahasiswa Kabupaten Barito Timur di
Palangkaraya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar